Twitter Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon


Membangun Kepemimpinan K3 0

Sering pertanyaan berikut ini diajukan di dalam suatu perusahaan. “Dari mana mulainya suatu implementasi K3?”. Dan para pakar K3 yang sudah banyak berpengalaman dalam menjalankan best practise K3 kelas dunia dengan tegas akan menjawab. “K3 dimulai dari orang berkerah putih atau orang berdasi di perusahaan tersebut”.

Yang mereka maksudkan di sini adalah K3 harus dimulai dari manajemen puncak dan tim manajemen, karena dari meja manajemen puncak dan meja tim manajemen dimulai dan digerakkannya implementasi K3 yang efektif di dalam organisasinya.

Terdapat empat tipe organisasi yang membedakan perhatiannya terhadap aspek K3. Organisasi tipe pertama, yaitu organisasi yang besikap acuh tak acuh terhadap aspek K3. Organisasi tipe ini tidak peduli pada pemenuhan ketentuan regulasi K3 yang sudah dikeluarkan pemerintah. Organisasi tipe ini harus menjadi fokus dan prioritas perhatian pemerintah agar melaksanakan ketentuan perundangan K3 sampai ada perubahan budaya organisasi, perilaku, sistem manajemen dan kinerjanya.

Organisasi tipe kedua yaitu organisasi yang masih mengabaikan bahaya di tempat kerja dan peraturan serta perundangan yang berlaku. Organisasi tipe ini komit pada aspek K3 dan mencoba meningkatkan kinerja, namun tidak tahu atau mungkin tidak mempunyai sumber daya untuk mengerti secara penuh apa yang dibutuhkan dari mereka kaitannya dengan aspek K3. Kebanyakan tipe organisasi seperti ini akan meningkatkan kinerjanya setelah diberikan kesempatan untuk paham akan nilai K3 bagi pekerja.

Organisasi tipe ketiga yaitu organisasi yang sudah paham akan nilai aspek K3 bagi pekerja dan telah mencoba meningkatkan kinerjanya, tapi telah gagal untuk membuat langkah perubahan berkesinambungan. Organisasi tipe ini sering mengatakan sesuatu yang benar, mempunyai komitmen yang baik dan terlihat telah mengimplementasikan sistem manajemen dan praktek kerja aman, tapi kinerja yang baik masih belum mereka dapatkan.

Organisasi tipe keempat yaitu organisasi yang mempunyai komitmen dan keterlibatan yang tinggi dan telah mencapai kinerja K3 yang sangat tinggi. Organisasi tipe ini tidak hanya mengatakan sesuatu yang benar dalam aspek K3, mereka juga mempraktekkannya dengan baik, berperilaku aman dalam bekerja, mempunyai sistem yang benar, melibatkan semua pekerja dan semua yang terkait dengan pekerjaannya untuk meningkatkan kinerja K3 bagi organisasinya.

Keempat tipe organisasi tersebut dibedakan berdasarkan sudut pandang dan perilaku manajemennya. Suatu hasil penelitian telah menyimpulkan bahwa ada beberapa faktor kritikal untuk sukses dalam organisasi (Hidley,J.H. 1998. Critical Success Factors for Behavior-Based Safety, Profesional Safety, 30-34). Salah satunya adalah tingginya kualitas dari kepemimpinan yang telah mereka berikan dan budaya organisasi yang dihasilkannya. Tim manajemen dalam organisasi ini telah mempunyai kepemimpinan K3 (safety & health leader) yang efektif dan mendemonstrasikan karakter khusus, berhubungan dengan perilaku yang spesifik, dan cenderung menciptakan budaya organisasi yang tepat.

Kenyataan yang ditemui di dalam organisasi yang kepemimpinan K3 nya tinggi dan efektif, ternyata juga sukses dalam kinerja operasional secara umum. Faktanya menunjukkan bahwa kedua faktor itu memang saling terkait. Mengapa demikian? Karena tuntutan kepemimpinan K3 adalah tebentuknya seorang pemimpin yang mengutamakan dan mengendalikan faktor keteladanan, etika kerja yang kuat, tanggung jawab, watak, keterbukaan, konsistensi, komunikasi dan keyakinan. Hal ini akan tercermin dari kinerja K3 di dalam organisasinya. Oliver Goldsmith pernah menulis bahwa, “Orang jarang mengalami peningkatan kalau mereka tidak mempunyai keteladanan yang bisa ditiru oleh orang lain”. Kepemimpinan K3 juga mengajak orang lain untuk berubah. Itulah alasannya kenapa kepemimpinan K3 yang sukses akan membuat mereka juga sukses dalam memimpin organisasi secara menyeluruh.

Komitmen dan Keteladanan Manajemen
Pada suatu sesi pelatihan K3 di perusahaan yang sedang membangun budaya K3 secara serius, salah seorang peserta pelatihan menanyakan kepada penulis. “Seberapa penting komitmen manajemen ini diperlukan dalam pembudayaan K3?”. Berdasarkan pengalaman terdapat beberapa faktor yang paling penting agar implementasi dan budaya K3 bisa berjalan dengan baik selain beberapa faktor lainnya, yaitu komitmen dan keterlibatan manajemen.

Hal penting yang ingin digambarkan di sini adalah bahwa “komitmen dan keterlibatan” manajemen puncak (top manajemen) dan jajaran tim manajemennya merupakan hal yang paling mendasar dan paling penting dalam menggerakkan partisipasi pekerja disemua strata organisasi. Hal ini akan menjamin K3 bisa berpadu baik di dalam struktur organisasi maupun di dalam alokasi sumber daya. Di dalam struktur organisasi akan ditempatkan posisi organisasi K3 pada tingkat yang dapat menentukan keputusan perusahaan dan memprioritaskan K3 dalam setiap kegiatan operasi.

Seorang manajemen puncak pada perusahaan yang telah mencapai “Safety & Health Excellent” sudah benar-benar menyadari bahwa biaya, produktivitas, kualitas, dan K3 adalah seiring sejalan dan tentunya secara konsisten membuktikannya di lapangan. Sasaran akhir dari suatu organisasi untuk meningkatkan K3 adalah untuk menciptakan iklim dan budaya K3, di mana K3 menjadi suatu nilai utama. Tapi kita tidak bisa memungkiri bahwa pada banyak organisasi dan perusahaan kita sering mendengar informasi seperti “tingkat kepercayaan kepeada manajemen yang rendah, komunikasi yang buruk,dan kredibilitas manajemen yang tidak jelas”. Banyak para leader gagal mengarahkan pekerja untuk mengurangi bahaya di tempat kerja dan para pekerja sendiri sering tidak terlibat di dalamnya.

Bagaimana kita bisa merubah itu? Bagaimana kita bisa menciptakan suatu budaya di mana K3 menjadi nilai-nilai utama? (Thomas R. rause,2005. Leading with Safety.16-22). Proses perubahan dimulai dari “kepemimpinan” itu sendiri. Manajemen perlu tahu apa perilaku mereka yang dibutuhkan untuk membawa organisasi yang serius untuk berubah dan menstimulasikan perilaku yang benar kepada semua pemimpin di dalam organisasi. Mereka harus menjadi pemimpin yang konsisten dan bisa menjadi contoh apa yang dikatakannya juga sekaligus dilakukannya, membuat keputusan yang benar, mengkomunikasikan informasi yang benar dan mempunyai visi K3 yang benar.

Harus dipahami bahwa bila K3 sudah dijalankan nilai utama dalam budaya perusahaan, maka nilai tersebut akan bisa bertahan lama. Komitmen dan keterlibatan manajemen puncak ini perlu dijabarkan dalam bentuk yang lebih kongkrit untuk memenuhi ketentuan yang berlaku bagi pengelolaan K3. Pertama, tindakan nyata manajemen di lapangan yang memperlihatkan kepedulian atas aspek K3 dalam kegiatan operasi. Kedua, tekad dan sikap manajemen yang disampaikan melalui pengarahan dan pertemuan dalam organisasi perusahaan.

Comments
0 Comments

0 Responses So Far:

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam.