Twitter Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon


Baju Terakhir... 0

Pada acara “communication meeting” di unit usaha Hydraxle Perkasa beberapa waktu yang lalu, ada suatu pernyataan sekaligus pertanyaan yang sangat menarik dari salah satu peserta acara tersebut, isinya mengatakan bahwa ia bekerja hanya dan untuk ADR, tetapi ia ingin tahu bagaimana caranya agar ia dapat terus berkembang di perusahaan ini. Kemudian pernyataan dan pertanyaan itu dijawab dengan satu ungkapan yang sangat menarik oleh salah seorang senior manager kita yang isinya adalah bahwa “baju Anda (baju hijau) bukanlah baju yang terakhir, karena baju Anda bisa berubah menjadi putih, menjadi batik, bahkan menjadi stelan jas”, demikian kira-kira ungkapannya. Kita bisa menjadi seorang presiden kalau kita mau, minimal menjadi seorang presiden direktur dalam sebuah perusahaan. Mengapa tidak bisa? Demikian tambahan penjelasannya.

Pada malam hari nya saya renungkan kembali kata-kata tersebut, ternyata sangat logis dan faktual, bahwa kita bisa jika kita mau. Akan tetapi seringkali kita ‘terpenjara’ oleh pikiran kita, seolah-olah itu adalah baju terakhir kita, kita tidak bisa lebih dari yang sekarang. Apa benar begitu? Jawabannya benar dan tidak benar. Benar bagi mereka yang memang terpenjara oleh pikirannya. “Ah, saya bisa apa sih?” atau “Saya tahu ini tidak benar, tetapi apa yang bisa saya lakukan?” atau “Dari sebelum saya masuk juga sudah seperti ini, saya tidak tahu lagi harus bagaimana!” dan sebagainya, begitu banyak hambatan di dalam diri kita. Siapa yang menghambat? Lagi-lagi diri kita sendiri. Pada sisi yang lain, pernyataan di atas adalah tidak benar. Tidak benar bahwa baju ini adalah baju yang terakhir, hal ini hanya berlaku bagi mereka yang tidak dipenjarakan oleh pikirannya sendiri, mereka yang memiliki kebebasan berpikir, mereka yang memiliki kebebasan berkreasi, mereka yang memiliki kebebasan dalam berkarya.

Mereka yang pikirannya terpenjara beranggapan bahwa bajunya adalah Motivasi baju yang terakhir, mereka menggantungkan dirinya kepada orang lain, menggantungkan dirinya kepada kondisi lingkungannya, menggantungkan dirinya kepada atasannya, menggantungkan dirinya kepada perusahaan, perlahan tapi pasti mereka yang menggantungkan dirinya akan “mati suri”, tidak memiliki nilai, tidak mempunyai arti, yang pada akhirnya membuat mereka dismotivasi, selalu melihat kesalahan dari orang lain, tidak pernah menyadari kesalahan ada pada dirinya, selalu banyak alasan untuk pembenaran dirinya, sampai akhirnya ia akan kehabisan nafas dengan sendirinya.

Sebaliknya, mereka yang meyakini bahwa bajunya bukan baju terakhir, ia tidak menggantungkan dirinya pada siapapun, mereka yang dapat mengatur dirinya, mereka yang berusaha mengubah nasibnya, mereka yang secara terus menerus bersikap proaktif, tidak dikalahkan oleh keadaannya. Mereka adalah orang-orang yang penuh semangat, antusias, berpikir secara positif dan memandang jauh ke depan serta tidak pernah menyalahkan apapun dan siapapun. Selalu menciptakan nilai baru dan pada akhirnya dapat terus menerus mengisi energi hidupnya.

Hebatnya mereka yang tidak terpenjara oleh pikirannya, walaupun secara fisik mereka dipenjara namun mereka masih bisa menciptakan suatu karya yang luar biasa, sebut saja Nelson Mandela yang berjuang melawan “apartheid” dari dalam penjara, juga tokoh demokrasi dari Myanmar, Aung San Suu Kyi yang hingga saat ini berada di dalam penjara namun tetap menggulirkan semangat demokrasi yang sama sekali tidak pernah luntur. Saya pernah melihat di acara Kick Andy ketika beliau mewawancarai Pak Rahadi Ramlan mantan Kabulog yang dipenjara karena kasus korupsi, yang menarik adalah beliau mengeluarkan sebuah buku yang ditulisnya ketika berada di dalam sel tahanan. Ini menunjukkan kekuatan berpikirnya yang luar biasa, kemampuan berpikir bebas yang memang membuat mereka menjadi orang-orang yang luar biasa, terlepas tentu dari kasus korupsinya. Mereka-mereka ini adalah orang yang tahu pasti bahwa bajunya bukan yang terakhir, sama seperti Pak Rahadi Ramlan, yang sangat sadar bahwa baju penjara bukanlah baju terakhir yang ia pakai, ia bisa berubah, berubah menjadi lebih baik dan mengembalikan reputasinya yang sebelumnya telah rusak.

Bagaimana dengan kita di ADR? Banyak diantara kita berpikir bahwa baju yang dikenakan saat ini adalah baju yang terakhir, karena itu akhirnya mereka merasa frustrasi, tidak berdaya, marah, lelah, kesal, dan akhirnya membawa mereka menjadi orang yang dismotivasi, mudah menyerah, tidak ada gairah, merasa diri menjadi korban, merasa diri tidak berarti, menganggap perubahan hanya dilakukan oleh orang lain, dan lebih celakanya pada akhirnya banyak yang berkompromi engan cara kerja yang tidak benar. Berkompromi dengan penyimpangan atau sistem yang menyimpang dari yang ditentukan oleh mereka sendiri.

Sebenarnya sangat disayangkan, karena kebanyakan mereka yang berpikir bajunya adalah baju terakhir, tidak bisa melihat ke dalam diri mereka, begitu banyak potensi di dalam dirinya yang belum dikeluarkan, begitu banyak kekuatan di dalam dirinya yang belum diekplorasi, seperti tertutup oleh bajunya yang sudah lusuh dan sudah mulai pudar warnanya, semakin sulit menyadari kelebihan di dalam dirinya. Rekan-rekan kita seperti inilah yang termasuk dalam kriteria karyawan ‘cendol’, sebuah kata-kata satir, merupakan sindiran yang sudah sangat umum dan popular di perusahaan ini, yang ditujukan kepada mereka yang menunjukkan ketidak-berdayaan, ketidakmampuan, keputus-asaan yang intinya meniru pada perilaku ‘negatif’ dari para pendahulunya. Mengapa ‘cendol’, nah itu tanyakan pada diri Anda sendiri, mungkin lebih tahu daripada saya.

Akhirnya, rekan-rekan semuanya, bagaimana dengan diri Anda sendiri? Apakah Anda sadar bahwa baju Anda bukan baju terakhir? Atau ini memang baju terakhir Anda? Silahkan renungkan.

Comments
0 Comments

0 Responses So Far:

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam.